Senin, 10 Desember 2018

Kesebelas kali

uploader

Kita kembali merebut itu
Setelah 17 tahun penenatian lamanya
Piala liga yang kita dambakan
Piala liga yang kita harapkan
kembali dalam pelukan

Malam itu
Jakarta pesta pora
Letupan suara petasan bersautan
Beradu dengan suara ribuan orang
Merayakan kemenangan
Merayakan kejayaan

Mereka bilang juara kita hambar
Lewat isu settingan mereka menyerang
“Nggak malu juaranya dibantu?” Cuap mereka
Mereka mengatakan karena mereka gagal
Percayalah, jikalau mereka yang mendapatkan
Mereka tak akan menggoreng isu settingan sekencang dan semangat sekarang 

Semuanya dilalui lewat jeri payah
Langkah demi langkah
Laga setiap laga
Semuanya bermain dengan semangat membara
Demi ribuan orang yang ingin dibuat bangga

Terimakasih untuk pemain
Terimakasih untuk pelatih dan official
Terimakasih untuk manajemen
Terimakasih untuk siapapun kalian yang telah mengawal setiap pertandingan

Mari kita rayakan
Bukankah ini yang kita inginkan?
Yang kita impikan?
Kesebelas kali
Akhirnya didapatkan kembali
Setelah dinanti

Ah, bahagianya...
Persija kembali berjaya
Persija kembali juara
Persija kembali berpesta
Persija kembali membuat 'ibu' kota bahagia






Jakarta, 9 desember 2018.




Read More

Sabtu, 11 Agustus 2018

ASUMSI


Beberapa hari ini aku benci malam
Karena ada sunyi di dalamnya
Dan karena-nya pikiran ini mudah dirasuki
Oleh kenangan-kenangan yang harusnya tidak ku ingat kembali

Musik yang seharusnya jadi penghantar tidur
Sekarang menjadi media antara aku dan rindu
Andai saja dulu aku tidak mundur
Mundur dan menghindar jauh darimu

Masih teringat dugaan ku dulu
Dugaan yang membuat hariku buruk saat itu
Dugaan yang membuat situasi kita seperti ini
Dugaan yang menjadi nyata dan benar terjadi

Padahal hangat peluk mu masih terasa
Belum lama kau buat hariku bervariasi dan berwarna
Membawa diri ini berada pada puncak bahagia
Lalu kau jatuhkan aku pada jurang kesedihan yang mendalam saat itu juga

Gelap mendekap,
Malam ini angin sedang kencang-kencangnya
Dan yang harus kamu tau
Rasa rindu ini selalu muncul
Meminta titik temu

Read More

Sabtu, 28 Oktober 2017

Menjadi Aku

Malam semakin larut. Tak sadar rindu mulai menyusup, entah dari mana dia masuk. Lagi lagi aku tenggelam oleh dinginnya malam, oleh heningnya sepi. Masih teringat bagaimana dekatnya kita, dimana kita masih berada di fase yang aku suka. Belum sejauh ini tentunya. Sekarang kita bak orang tak kenal, tak ada tegur sapa, padahal untuk menanyakan kabarmu saja sebenarnya aku ingin, keadaan yang menyuruhku menahannya.


Menjadi aku, jika boleh berandai, aku ingin kau menjadi diriku. Menunggu kabar walau tak tau kabar itu akan diberi. Mengingkan memperbaiki moodnya yang berantakan walau bukan dirimu alasannya. Dan banyak lagi hal-hal yang aku rasakan, yang begitu sulit dijalankan tapi masih aku pertahankan. Berlebihan? Iya. Dan aku ingin kau menjadi aku. Agar kau merasakan setidaknya sedikit saja.

Menaruh perasaan tapi diabaikan, memang menyakitkan.
Read More

Senin, 05 Juni 2017

Kamu itu menyebalkan.

Terlalu banyak draft yang tidak menjadi karya tulis yang ku buat. Maaf, kali ini aku menyalahkanmu. Sebegitu beraninya aku menuduh dirimu, maaf. Jika kau perlu bukti, draft yang ku buat adalah bukti nyatanya. Bagaimana bisa, ketika aku sedang merasa bahagia dengan hari itu, esoknya kau buat diriku merana dalam sendu. Di saat aku ingin menulis kebahagiaan bersamamu, seketika semuanya berubah, berantakan, menjadi tak nyambung dari paragraf ke paragraf, itu karena ulahmu.

Aku tau, kau bisa saja mengelak, membantah, hingga balik menyalahkan diriku. Aku paham, aku bukan siapa-siapa mu. Bukan seseorang yang mempunyai hak untuk mengingatimu agar tidak terlalu sering meminum kopi, dan juga tak punya hak untuk menyuruhmu menghilangkan kebiasanmu; hilang tanpa kabar dalam sekejap.

“Kamu itu nyebelin!” kalimat yang tersirat jika kebiasaanmu tiba-tiba  datang kembali, kita yang sedang asik bertukar cerita dan semuanya berubah. Iya, bukan salahmu. Setelah aku sadari, aku tak pantas menyalahkan semua ini kepadamu.

Perasaan ini tak karuan dibuatmu, seakan kau suruh aku berlari dan kemudian kau paksa aku berhenti. Iya, bodohnya aku selalu nurut. Aku tak paham lagi, apakah aku harus mundur teratur atau maju dikuat-kuatin?


Percayalah, sampai saat ini, masih dirimu.
Read More