Sabtu, 11 Agustus 2018

ASUMSI


Beberapa hari ini aku benci malam
Karena ada sunyi di dalamnya
Dan karena-nya pikiran ini mudah dirasuki
Oleh kenangan-kenangan yang harusnya tidak ku ingat kembali

Musik yang seharusnya jadi penghantar tidur
Sekarang menjadi media antara aku dan rindu
Andai saja dulu aku tidak mundur
Mundur dan menghindar jauh darimu

Masih teringat dugaan ku dulu
Dugaan yang membuat hariku buruk saat itu
Dugaan yang membuat situasi kita seperti ini
Dugaan yang menjadi nyata dan benar terjadi

Padahal hangat peluk mu masih terasa
Belum lama kau buat hariku bervariasi dan berwarna
Membawa diri ini berada pada puncak bahagia
Lalu kau jatuhkan aku pada jurang kesedihan yang mendalam saat itu juga

Gelap mendekap,
Malam ini angin sedang kencang-kencangnya
Dan yang harus kamu tau
Rasa rindu ini selalu muncul
Meminta titik temu

Read More

Sabtu, 28 Oktober 2017

Menjadi Aku

Malam semakin larut. Tak sadar rindu mulai menyusup, entah dari mana dia masuk. Lagi lagi aku tenggelam oleh dinginnya malam, oleh heningnya sepi. Masih teringat bagaimana dekatnya kita, dimana kita masih berada di fase yang aku suka. Belum sejauh ini tentunya. Sekarang kita bak orang tak kenal, tak ada tegur sapa, padahal untuk menanyakan kabarmu saja sebenarnya aku ingin, keadaan yang menyuruhku menahannya.


Menjadi aku, jika boleh berandai, aku ingin kau menjadi diriku. Menunggu kabar walau tak tau kabar itu akan diberi. Mengingkan memperbaiki moodnya yang berantakan walau bukan dirimu alasannya. Dan banyak lagi hal-hal yang aku rasakan, yang begitu sulit dijalankan tapi masih aku pertahankan. Berlebihan? Iya. Dan aku ingin kau menjadi aku. Agar kau merasakan setidaknya sedikit saja.

Menaruh perasaan tapi diabaikan, memang menyakitkan.
Read More

Senin, 05 Juni 2017

Kamu itu menyebalkan.

Terlalu banyak draft yang tidak menjadi karya tulis yang ku buat. Maaf, kali ini aku menyalahkanmu. Sebegitu beraninya aku menuduh dirimu, maaf. Jika kau perlu bukti, draft yang ku buat adalah bukti nyatanya. Bagaimana bisa, ketika aku sedang merasa bahagia dengan hari itu, esoknya kau buat diriku merana dalam sendu. Di saat aku ingin menulis kebahagiaan bersamamu, seketika semuanya berubah, berantakan, menjadi tak nyambung dari paragraf ke paragraf, itu karena ulahmu.

Aku tau, kau bisa saja mengelak, membantah, hingga balik menyalahkan diriku. Aku paham, aku bukan siapa-siapa mu. Bukan seseorang yang mempunyai hak untuk mengingatimu agar tidak terlalu sering meminum kopi, dan juga tak punya hak untuk menyuruhmu menghilangkan kebiasanmu; hilang tanpa kabar dalam sekejap.

“Kamu itu nyebelin!” kalimat yang tersirat jika kebiasaanmu tiba-tiba  datang kembali, kita yang sedang asik bertukar cerita dan semuanya berubah. Iya, bukan salahmu. Setelah aku sadari, aku tak pantas menyalahkan semua ini kepadamu.

Perasaan ini tak karuan dibuatmu, seakan kau suruh aku berlari dan kemudian kau paksa aku berhenti. Iya, bodohnya aku selalu nurut. Aku tak paham lagi, apakah aku harus mundur teratur atau maju dikuat-kuatin?


Percayalah, sampai saat ini, masih dirimu.
Read More

Rabu, 19 April 2017

01:37

Raga ini masih ada dan nyata
Rasa ini juga masih ada dan sama
Kita memang sudah tak sedekat dulu
Ketika itu
Di saat engkau masih memberi ucapan mesra kepadaku
Ucapan yang memaksa raga ini terlelap
Ucapan yang membuat mimpi-mimpi indah mendekap
Pada raga ini

Aku ingin menidurkan raga ini
Tidak
Tidak sekarang
Nanti
Iya nanti ketika kamu hilang dari ingatan ini
Ah tetapi
Mana mungkin itu terjadi
Aku benci
Ketika semua sudah menghampiri
Kenanganmu itu yang terus menghantui

Aku tak paham dengan tulisan ini
Tetapi percayalah
Aku benar-benar mengingat kembali
Bersamamu
Yang membuat rindu menjadi candu
Yang membuat aku berhenti melangkah
Yang membuat aku percaya akan bahagia
Yang pada akhirnya hadiah kecewa
Yang ku dapat
Read More